MENGHADIRI WORKSHOP FILM PHOTOGRAPHY DI ANTI-CORRUPTION FILM FESTIVAL KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK)

 (Jakarta, 26/11/2025)

Tanggal 26 November 2025, perwakilan SMK Tamansiswa 1 Jakarta menghadiri acara Workshop Film Photography di Gedung Edukasi Antikorupsi KPK, di daerah Setiabudi Jakarta Selatan. Program ini adalah bagian dalam rangka Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST), sebuah festival film pendek yang digagas dan dikelola oleh Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai program kampanye antikorupsi melalui media Film.

Narasumber program workshop kali ini adalah Dendy Ariza Putra, seorang produser sekaligus Director Of Photography, yang telah membuat sebuah film pendek yang mendapatkan banyak pujian secara luas. Film yang beliau produseri, berjudul Hitler Mati di Surabaya, telah mendapatkan pujian secara luas dan lolos masuk nominasi utama Festival Film Indonesia tahun 2024. Film tersebut juga merupakan pemenang Funding Proposal di ACFFEST tahun 2023, satu tahun sebelum film tersebut menjadi nominasi FFI. Selain Hitler Mati di Surabaya, Dendy juga memiliki beberapa karya film pendek lainnya, seperti There's A Ghost In The Singing Tower, yang menjadi seleksi utama Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) tahun 2024. Di tahun yang sama, Dendy juga diundang oleh JAFF untuk memberikan presentasi mengenai Cinematographer Notes dalam Community Forum milik festival tersebut. Workshop yang beliau narasumberi, berjudul Seni Melukis Cahaya, yang menjelaskan tentang Sinematografi, pekerjaan seorang Director Of Photography, dan penjelasan mengenai fitur-fitur dalam kamera secara umum.


Sebagai Pembuka, beliau menjelaskan mengenai perbedaan Film, Sinema, dan Movies. Film adalah sistem tekstual atau organisasi dari sebuah film teks ke dalam sebuah totalitas yang bersifat Tunggal, serta memiliki struktur tertentu melalui jaringan tanda dan kode yang menghasilkan makna serta menyatu menjadi sebuah kesatuan. Dendy mencontohkan karya-karya Christopher Nolan, seperti Interstellar, sebagai sebuah Film. Selain itu, Dendy juga menjelaskan apa itu Sinema. Sinema adalah institusi yang melibatkan berbagai aspek, seperti Pre hingga Post filmic events. Infrastuktur ekonomi, teknologi, dekor bioskop, hingga distribusi film adalah salah satu aspek elemen-elemen yang memperkuat sebuah Sinema. Terakhir, Movies adalah sebuah sebutan yang berasal dari kata moving pictures, yang berkaitan dengan film sebagai produk kapitalisme Hollywood.

Selanjutnya, materi yang dipaparkan adalah mengenai Sinematografi dan bidang pekerjaan seorang sinematografer. Seorang sinematografer bekerja dengan para asistennya di dalam bidang divisi Kamera & Lighting. Dendy menjelaskan berbagai macam pekerjaan dalam bidang Kamera, seperti Camera Operator, 1st & 2nd Assistant Camera, dan Digital Imaging Technician (DIT).

Dendy menjelaskan dalam Pra-Produksi, Sinematografer bekerja untuk menganalisis secara naratif naskah film, seperti membaca naskah versi final draft, berdiskusi dengan sutradara untuk menentukan gaya visual film, membuat storyboard, dan memperhatikan keperluan alat yang diperlukan sesuai dengan keinginan sutradara dalam Shotlist. Di tahap inilah, seorang sinematografer bekerja paling banyak. Jika film sudah masuk dalam tahap produksi hingga pasca, sinematografer hanya bertugas untuk menjaga dan mengatur setting pencahayaan, komposisi, gerak kamera, dan exposure. Di tahap pasca, sinematografer akan lebih sering melakukan komunikasi dengan editor untuk penyelarasan Cut-to-Cut.

Bagian selanjutnya adalah penjelasan teknis film, seperti Contrast, Tonality, Triangle Exposure, Composition, hingga Color Theory. Bagian-bagian tersebut merupakan unsur-unsur dalam kamera yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Dendy juga menjelaskan perbedaan berbagai Aspect Ratio, yang sangat penting saat memilih supaya tidak ada kesalahan pada teknis maupun aspek storytelling dalam framing dalam film. Framing berasal dari bentuk keseluruhan film dan konteks langsungnya, konteks yang dimaksud adalah Visual Storytelling. Visual storytelling bekerja pada level bawah-sadar, membuat penonton memahami emosi dan konteks tanpa perlu dialog. Gambar bisa berbicara lebih kuat dari dialog, karena informasi visual ditangkap lebih cepat oleh penonton. Tujuan utamanya bukanlah membuat gambar indah, tetapi membuat gambar yang bermakna dan memperkuat cerita.

Dari pemaparan materi tersebut, kami memahami bahwa teknik sinematografi dan sistem didalamnya sangatlah detail, namun juga penting untuk efisiensi waktu saat produksi, dan sangat berefek untuk masuknya sebuah pesan dalam penceritaan secara visual. Saat sesi praktek kamera, beberapa siswa dan siswi terlibat dalam praktek tersebut. Dendy juga menjelaskan penataan lighting yang benar untuk objek dan background.








Komentar

Postingan Populer