SEMINAR TENTANG DIVISI INDUSTRI PERFILMAN YANG DIHADIRI OLEH DOSEN POLITEKNIK MEDIA KREATIF


(Jakarta, 13/08/2025)


Rabu, 13 agustus 2025, jurusan Perfilman SMK Tamansiswa 1 Jakarta mengadakan acara seminar yang dibawakan oleh bu Sifa Sultanika dan Ibu Handini Rahmawati., yang merupakan dosen dari Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta (Polimedia). Acara ini diadakan di balai SMK Tamansiswa 1 Jakarta. 
Saat pemaparan materi, Ibu Sifa Sifa Sultanika membawakan materi tentang divisi-divisi di perfilman. Beliau menjelaskan bahwa divisi di industri perfilman, ada Sutradara, Penulis, Produser, Penata Kamera, dan lainnya. Setelah beliau menjelaskan tentang divisi, materi masuk ke dalam aspek yang lebih spesifik. Pertama-tama, beliau menjelaskan tentang divisi penulis skenario.




Beliau membicarakan tentang cara menulis sebuah naskah film. Beliau menjelaskan bahwa menulis film itu seperti mempunyai seorang bayi. Film itu membutuhkan banyak orang untuk dibuat. “It takes a village to raise a “kid”!” ujar beliau. Beliau juga menjelaskan beberapa istilah dalam penulisan naskah.

Beliau menjelaskan bahwa dalam proses penulisan naskah, pasti adanya proses rewriting atau Penulisan ulang. Penulisan ulang bukanlah pertanda bahwa anda gagal dalam menulis, namun bagian dari proses dari membuat naskah yang dibuat menjadi lebih baik.



Beliau juga menjelaskan tentang sebutan dalam development film, yang bernama Development Hell. Beliau menjelaskan bahwa Development Hell adalah situasi jika pengembangan film yang sedang dikembangkan tidak bergerak atau mengalami penundaan. Lalu, beliau beralih untuk menjelaskan tentang menjadi seorang produser. Bagaimana menjadi seorang produser, dan pekerjaan secara spesifik yang produser lakukan.

Beliau mengujarkan, “Produser pasti akan mencari talenta-talenta yang pas untuk menjalankan proses produksi film yang akan dibuat. Produser juga harus mempunyai jiwa dan visi yang baik.



Setelah itu, beliau menjelaskan tentang ilmu seni dalam film. Beliau menjelaskan, “Film itu tidak bisa dibilang sebagai karya seni yang dilakukan oleh individu. Kita juga tidak bisa mengambil claim bahwa film yang kamu buat itu murni dari kamu sendiri. Seni itu tidak bisa dilihat langsung murni dari pribadi, namun seni itu dilihat berdasarkan hasil dari referensi-referensi karya yang pernah kita lihat sebelumnya.



Beliau juga menjelaskan bagaimana caranya untuk mengatur kru produksi. "Kalo bikin film, kita tidak boleh ditentukan oleh moody kita. Kita harus menjadi tim yang solid dan baik. Kita juga harus menjadi kru yang penuh empati satu sama lain. Kita tidak boleh menjadi kru yang egois." ujar beliau.



Penulis - Jonathan Mewo





Komentar

Postingan Populer